Abstrak
merupakan penyajian singkat mengenai isi tulisan sehingga pada tulisan
ia
menjadi bagian tersendiri. Abstrak berfungsi untuk menjelaskan secara singkat
kepada
pembaca
tentang apa yang terdapat dalam suatu tulisan. Pada umumnya abstrak
diletakkan
pada bagian awal sebelum bab-bab penguraian. Menurut sifatnya, abstrak
dapat
dibagi menjadi abstrak yang bersifat deskriptif yang dalam Bahasa Inggris
disebut
Abstract
dan abstrak yang bersifat informatif. Abstrak informatif terbagi menjadi
ringkasan
(precise) dan ikhtisar (summary). Dalam tulisan ilmiah yang disusun untuk
memperoleh
gelar lewat penelitian seperti skripsi, tesis dan disertasi, umumnya jenis
abstrak
yang digunakan adalah yang berwujud ringkasan, sedangkan ikhtisar lebih
banyak
digunakan pada tulisan ilmiah yang diterbitkan dalam bentuk buku.
Cara
membuat abstrak
Ada 4
langkah penting yang harus dilaksanakan, yaitu
1.
Ciptakan ruang penelitan, hal ini dapat dilakukan dengan cara:
(a)
Nyatakan pentingnya bidang yang anda teliti (bisa ditunjukkan dengan banyaknya
penelitian di bidang yang sama)
(b)
Tunjukkan kekurangan artikel ilmiah yang telah ada (dalam bidang yang sama
tentu saja),
(c)
Tunjukkan tujuan artikel ilmiah anda
2.
Uraikan metodologi penelitian dengan jelas
3.
Nyatakan hasil penelitian (dengan singkat dan jelas tentu saja)
4.
Evaluasi-lah hasil penelitian yang telah dilakukan (kesimpulan artikel)
Panjang
abstrak biasanya 100-200 kata. Menurut Hadijanto dalam Zifirdaus, tahap 2 dan 4
tidak wajib ada dalam sebuah abstrak.
Berikut
ini merupakan salah satu contoh abstrak di dalam karya tulis :
Penelitian Deskriptif Mengenai
Psikologi Sosial Masyarakat Kudus Terhadap Fatwa Rokok MUI
Oleh : Ikha Setya Aminati
Penelitian tentang “Dampak Fatwa
Rokok Bagi Psikologi Sosial Masyarakat Kudus” bertujuan untuk memberi manfaat
psikologi sosial masyarakat Kudus dalam permasalahan fatwa rokok.
Penelitian ini dilakukan dengan
cara pembagian angket kepada masyarakat yang mempunyai rutinitas merokok serta
studi pustaka. Sejumlah 54 angket yang kembali diperoleh hasil bahwa alasan
merokok terbanyak adalah merokok untuk menghilangkan lelah yang ditunjukkan
dengan presentase 33,33%.
Sedangkan responden yang merokok
mengetahui bahwa rokok tersebut berbahaya bagi kesehatan tubuh adalah sebanyak
88,89%. Namun, dalam kenyataannya mereka tetap merokok untuk alasan-alasan yang
tercantum pada tabel 1, ini terbukti bahwa perokok menerapkan teori
pertentangan sebagai salah satu upaya untuk melakukan aktifitas merokok.
Tetapi, tidak selamanya teori
pertentangan berlaku pada 54 orang responden. Hal itu terbukti dengan adanya kesadaran
untuk berhenti merokok yang terdapat dalam tabel 2 sebanyak 66,67%.
Berdasarkan kenyataan yang
diperoleh dari hasil tersebut, maka psikologi sosial bermanfaat dalam
permasalahan fatwa rokok, berupa adanya kesadaran masyarakat untuk berhenti
merokok. Sedangkan dampak fatwa rokok pada psikologi sosial masyarakat Kudus,
berupa adanya penolakan terhadap fatwa rokok MUI. Kemudian bentuk dari
psikologi sosial rokok dalam masyarakat adalah adanya teori pertentangan yang
secara langsung dilakukan masyarakat sebagai upaya untuk melakukan aktivitas
merokok.
Cr :
Terimakasih Sherynooo..
ReplyDeletesudah membuat abstrak saya sebagai contoh..
:) big hug.. Ikha S.A