A. Pengertian Kata
Kata adalah satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri
sendiri dengan makna yag bebas. Dari definisi tersebut terdapt 2 hal yang
menandai sebuah kata :
- Merupakan satuan bahasa terkecil
- Mengandung makna yang
bebas.
B. Imbuhan dr bahasa asing
SANSEKERTA (-man , -wan, -wati)
a. Imbuhan –man
Ciri:
- diletakkan pada kata yang berakhir dengan vokal
–i
- Menunjukkan laki-laki
- Fungsi : menbentuk kata benda
- Makna : orang yang. . .
Contoh : seniman, budiman
b. Imbuhan –wan
Ciri :
·
Diletakkan pada kata yang berakhir dengan vokal
selain –i
·
Menunjukkan laki-laki
·
Fungsi :
membentuk kata benda dan sifat
·
Makna :
orang yang. . .
Contoh : cendekiawan , wartawan
c. Imbuhan –wati
Ciri :
- Sejalan dengan akhiran-wan
- Menunjukkan wanita
- Makna : orang yang. . .
Contoh : peragawati , olahragawati
ARAB ( -i, -wi, -iah )
Ciri :
- Diletakkan pada kata yang berakhir dengan
vokal-a
- Makna :
mempunyai sifat
- Fungsi :
membentuk kata sifat / kata benda
Contoh : surgawi , duniawi
EROPA ( -is, -isme, -isasi )
a. Imbuhan –is
Ciri :
- Berasal dari bahasa belanda
- Makna : “yang bersifat” atau “orang yang . .”
- Fungsi : membentuk kata sifat atau kata benda
Contoh: teoritis , aktivis
b. Imbuhan –isme
Ciri :
- Berasal dari bahasa belanda
- Makna : aliran atau paham
- Fungsi : membentuk kata benda
Contoh : komunisme , kapitalisme
c. Imbuhan –isasi
Ciri :
- Berasal dari bahasa inggris
- Makna : proses
- Fungsi : membentuk kata benda
Contoh : urbanisasi , imunisasi
C. Upaya Pengindonesiaan
Kata sifat bentuk dengan penambahan
akhiran –al, er-, if-, dan –ik. Di samping itu dapat juga digunakan akhiran
dari bahasa Arab –i/-wi/-iah yang tidak lagi terasa akhiran asing dalam bahasa
Indonesia. Dalam bahasa Indonesia sendiri tidak banyak afiks pembentuk kata
sifat, seperti yang disebut oleh Fokker (1960:139) bahwa bahasa Indonesia
miskin susunan ajektivis.
Dalam bahasa Indonesia kedudukan
kata dalam satuan sintaksis yang lebih besar menentukan sifat hubungannya dengan
kata lain. Kata benda kayu dapat mensifatkan kata lain seperti halnya kata
sifat bagus. Seperti hanya bagus pada meja bagus, kayu, juga mensifatkan meja
pada meja kayu. Dalam bahasa Indonesia kata kayu tidak mengalami perubahan
bentuk, dan semata-mata posisinya dalam satuan sintaksis yang menempatkannya
sebagai atribut.
Menurut kaidah bahasa Indonesia
barangkali kata morfologi atau akademi tidak perlu berubah apabila berpindah
posisinya, misalnya pada morfologi bahasa Indonesia dan proses morfologi, serta
akademi bahasa Indonesia dan pembantu dekan bidang akademi. Urusan akademi dan
urusan akademis maknanya berbeda; yang pertama menyatakan hubungan kemilikan
yang kedua hubungan kesifatan. Tetapi hubungan makna itu barangkali baru timbul
setelah bahasa Indonesia menyerap kata-kata asing yang berbeda bentuknya itu.
Untuk menegaskan perbedaan hubungan
makna itu, untuk kata-kata dalam bahasa Indonesia sendiri digunakan konfiks
ke-an, contohnya: sifat ibu dan sifat keibuan, uang negara dan kunjungan
kenegaraan.
Yang sering menimbulkan keraguan
ialah penggunaan akhiran –is dan –ik. Mana yang betul: akademis atau akademik,
endosentris atau endosentrik? Akhiran –is diserap dari bahasa Belanda –isch,
sedang –ik dari bahasa Inggris –ic atau –ical. Sementara itu akhiran –ik
diserap jujga dari akhiran –ics dari bahasa Inggris yang menandai kata benda,
seperti: statistic, linguistic, semantic, fonetik. Seperti yang digariskan di
dalam Pedoman Pembentukan Istilah, mengingat akhiran –ik banyak digunakan untuk
menandai kata benda (statistic, linguistic, semantic, logistic, dan sebagainya)
untuk kata sifat hendaknya digunakan –is, kecuali pada kata-kata: simpatik,
unik, alergik, spesifik, karakteristik, analgesik.
Akhiran yang berasal dari bahasa
Arab, yang terasa lebih bersifat Indonesia, dapat digunakan untuk menerjemahkan
kata-kata asing, misalnya penalaran mantiki (logika reasoning), antropologi
ragawi (physical anthropology), makhluk surgawi (devine being), terjemahan
harfiah (letteral translation) dan sebagainya.
Di samping itu, untuk menyatakan
pengertian seperti yang dinyatakan oleh bentukan-bentukan dalam bahasa asing,
dalaml bahasa Indonesia sendiri digali imbuhan atau kata-kata yang diharapkan
dapat menjadi padanan bentukan-bentukan dalam bahasa asing (Johannes, 1982 dan
1983, dan dalam Moeliono dan Dardjowidjojo (Eds.), 1988:431). Daftar afiks,
morfem, atau kata tersebut adalah sebagai berikut.
1. adi- seperti pada: adidaya
(super power), adikodrati (super natural), adikarya (masterpiece), adibusana
(high fashion), adimarga (boulevard);
2. alih seperti pada: alih aksara
(transliteration), alih tulis (transcript), alih
teknologi (transfer of technology),
alih bahasa (translate);
3. antar- seperti pada: antarbangsa
(internasional), antarnusa (interinsuler),
antarbenua (intercontinental),
antardepartemen (interdepartmental);
4. awa- pada: awahama (disinfect),
awabau (deodorize), awahubung (disconnect), awawarna (discolor), pengawasan
(disimilasi);
5. bak- pada bakruang (space-like),
bakelektron (electron-like), bakintan
(adamantine), bakagar
(galantineous);
6. dur- pada: durjana (evildoer),
dursila (immoral), durkarsa (malevolence,
malice), durhaka (sinful);
7. lepas pada: lepas landas
(takeoff), lepas pantai (offshore);
8. lir- pada: lirkaca (glassy)
liragar (galantineous) liritan (adamantine) sang lir sari ‘yang seperti bunga’;
9. maha- pada: maharaja (kaisar,
raja besar), mahaguru (guru besar), mahasiswa, Maha Esa, Mahaadil, Mahakuasa,
Maha Pemurah;
10. mala- pada: malagizi
(malnutrition), malabentuk (malformation), malakelola
(mismanage), malapraktik
(malpractice);
Untuk lebih lengkapnya silahkan
pergi ke
http://ocw.gunadarma.ac.id/course/economics/management-s1/bahasa-indonesia/pembentukan-kata/view
Dengan alat-alat ketatabahasaan di atas
diharapkan bahwa bahasa Indonesia menjadi lebih luwes dalam menyatakan kembali
berbagai konsep dalam berbagai bidang ilmu yang berasal dari Barat. Kemampuan
untuk menyerap berbagai gagasan dari Barat dan mengungkapkannya kembali dalam
bahasa Indonesia, diharapkan semakin meningkat. Kata-kata asing tidak kita
pungut begitu saja, melainkan diusahakan agar dapat dinyatakan dengan kata-kata
yang lebih bersifat Indonesia.
D. Hubungan Makna Kata
Kata-kata biasanya mengandung
komponen makna yang kompleks. Hal ini mengakibatkan adanya berbagai perhubungan
yang memperlihatkan kesamaan, pertentangan, tumpang tindih, dan sebagainya.
Dalam hal ini para ahli semantik telah mengklasifikasikan perhubungan makna itu
ke dalam berbagai kategori, seperti sinonimi, polisemi, hiponimi, antonimi dan
sebagainya. Berikut akan dijelaskan beberapa kategori yang penting dalam
pembahasan semantik.
a. Sinonimi
Dua buah kata yang mempunyai
kemiripan makna diantaranya disebut dua kata yang sinonim. Kata perempuan yang
mempunyai komponen makna manusia dewasa berkelamin perempuan adalah sinonim
dengan kata wanita. Keduanya mempunyai komponen makna yang sama. Sekalipun kata
perempuan dan wanita sulit dibedakan artinya namun di dalamnya ternyata ada
unsur emotif yang membedakannya. Kata perempuan merupakan kata yang metral, dan
wanita terasa ada implikasi penghargaan pengucapannya.
b. Hiponimi
Dekat dengan perhubungan yang
disebut sinonimi adalah perhubungan yang disebut hiponimi. Hiponimi menyatakan
hubungan makna yang mengandung pengertian hubungan hierarkis. Bila sebuah kata
memiliki semua komponen makna kata lainnya, tetapi tidak sebaliknya, maka
perhubungan itu disebut hiponimi. Kata warna meliputi semua warna lain. Jadi
merah, hitam, hijau adalah hiponim dari kata warna. Hiponimi kemudian menjadi
dasar pendekatan yang disebut dengan semantic field atau semantic domain, yaitu
pendekatan semantik yang mecoba melakukan klasifikasi makna berdasarkan
persamaan arti atau bidang makna yang sama dikumpulkan dalam satu kelompok
c. Homonimi dan Polisemi
Bila terdapat dua buah makna atau
lebih yang dinyatakan dengan sebuah bentuk yang sama, maka perhubungan makna
dan bentuk itu disebut homonimi (sama nama atau juga yang sering disebut
homofini (sama bunyi). Kata seperti pukul dapat menyiratkan makna (1) jam
seperti terdapat dalam pukul tiga, dan dapat menyiratkan makna (2) kegiatan
memukul. Kata yang mempunyai banyak makna disebut polisemi. Kata bisa (1) dan
bisa (2) mengandung makna yang sama sekali berbeda, oleh sebab itu dianggap dua
kata yang dua kata yang kebetulan bunyi sama atau sama nama. Tetapi kata pukul
mempunyai dua makna yang saling berhubungan, dan oleh karena itu disebut kata
yang mempunyai banyak makna.
d. Antonimi
Perhubungan makna yang terdapat
antara sinonimi, polisemi, homonimi, hiponimi, atau polisemi, bertalian dengan
kesamaan-kesamaan, antonimi, sebaliknya, dipakai untuk menyebut makna yang
berlawanan. Bentuk-bentuk seperti laki-laki dan hidup, masing-masing berantonim
dengan perempuan dan mati . Dan kata-kata yang berlawanan makna itu disebut
mempunyai perhubungan yang bersifat antonimi.